KARIR & TREN 7 menit • diperbarui 2025

Masa Depan Pekerjaan Remote: Antara Fleksibilitas dan Tantangan Baru

Bekerja dari mana saja bukan lagi sekadar wacana. Namun, apa yang akan terjadi ketika hiruk-pikuk work from home mulai menemukan bentuk barunya? Gamblang.com merangkum masa depan hybrid yang lebih manusiawi.
AR

Aditya Rinaldi

Kontributor Teknologi & Budaya Kerja

Gamblang.com, JAKARTA — Pandemi mungkin telah berlalu, tetapi jejaknya pada dunia kerja tetap membekas. Work from anywhere kini menjadi benefit utama yang dicari pencari kerja. Namun di balik gemerlap kebebasan, muncul dinamika baru: bagaimana mempertahankan budaya perusahaan, mencegah burnout, dan memastikan keadilan karier antara pekerja onsite dan remote?

Laporan terbaru dari Future Workforce Alliance menyebutkan bahwa 72% perusahaan di Asia Tenggara akan mengadopsi model kerja fleksibel permanen pada 2026. Ini bukan lagi sekadar trend, melainkan perubahan fundamental dalam kontrak sosial antara karyawan dan pemberi kerja.

87%
karyawan ingin fleksibilitas jam kerja
3,2 thn
lebih lama bertahan di perusahaan remote-friendly
41%
lebih produktif di rumah (survei internal)

1. Model Hibrida: Kompromi yang (Mungkin) Paling Ideal

Hybrid working—kombinasi kerja di kantor dan di rumah—menjadi primadona. Perusahaan seperti GoTo, Traveloka, hingga perusahaan rintisan mulai merancang kebijakan 3-2 (tiga hari di kantor, dua hari remote). Kuncinya ada pada intentional collaboration: hari-hari di kantor difokuskan untuk brainstorming dan ikatan tim, sementara pekerjaan individu dilakukan dari rumah.

“Remote working bukan tentang di mana Anda bekerja, tetapi bagaimana Anda menciptakan dampak. Perusahaan yang sukses adalah yang mengukur output, bukan jam duduk di meja.”

— Nia Wibisono, HR Director Gamblang Group

2. Kesenjangan Digital dan Infrastruktur

Tantangan terbesar ada di daerah dengan konektivitas terbatas. Seorang talenta di Yogyakarta mungkin mengalami kendala berbeda dengan talenta di Jakarta. Pemerintah dan swasta mulai berlomba menyediakan hub kerja bersama bersubsidi serta paket data korporat. Perusahaan seperti Bukalapak bahkan memberikan subsidi khusus untuk co-working space bagi karyawan yang rumahnya kurang kondusif.

2.1 Kesehatan Mental di Era Layar

Studi dari Mental Health Tech menyebutkan bahwa 53% pekerja remote merasa lebih kesepian dibanding saat bekerja di kantor. Untuk itu, perusahaan mulai mewajibkan off-screen day atau meeting-free day. Beberapa startup bahkan menanggung biaya psikolog daring bagi karyawan.

Aspek Fully Onsite Fully Remote Hybrid
Kolaborasi spontan ⭐⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐ ⭐⭐⭐⭐
Keseimbangan hidup ⭐⭐ ⭐⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐⭐⭐
Penghematan biaya ⭐⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐⭐
Inklusivitas talenta ⭐⭐ ⭐⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐⭐⭐

3. Sisi Gelap Remote: Proximity Bias dan Promosi

Siapa yang lebih dulu dipromosikan: karyawan yang sering terlihat di kantor atau pekerja remote yang jarang muncul? Inilah yang disebut proximity bias. Manajer perlu dilatih untuk objektif. Alat seperti OKR dan 360-degree feedback menjadi semakin krusial. Data dari LinkedIn menunjukkan bahwa pekerja remote 31% lebih kecil kemungkinannya mendapat promosi dalam dua tahun terakhir — sebuah fakta yang harus dilawan dengan kebijakan adil.

Keuntungan Remote

  • 🕒 Fleksibilitas waktu
  • 💰 Hemat transport & makan siang
  • 🌍 Bekerja dari kota mana pun
  • 😌 Stres commuting hilang

Tantangan

  • 😶‍🌫️ Perasaan terisolasi
  • ⚖️ Batasan kerja-keluarga kabur
  • 📉 Kenaikan pangkat lebih lambat
  • 🔌 Ketergantungan internet

4. Prediksi 2030: Desa Digital dan Nomad Hukum

Ke depan, istilah “kantor” mungkin berubah drastis. Beberapa negara seperti Jepang dan Jerman tengah merancang digital nomad visa jangka panjang. Di Indonesia, kawasan seperti Bali, Bandung, dan Yogyakarta diprediksi menjadi klaster profesional remote. Pajak dan regulasi lintas provinsi pun akan menjadi bahasan hangat bagi pemerintah.

Gamblang.com berkesimpulan: pekerjaan remote bukan sekadar lokasi, melainkan tentang kepercayaan. Perusahaan yang mampu membangun budaya hasil, bukan kehadiran, akan menjadi pemenang di era baru ini. Apakah Anda sudah siap?

Baca juga: "Membangun Tim Remote yang Solid Tanpa Micro-managing" dan "5 Tools Wajib untuk Pekerja Jarak Jauh" di Gamblang.com.